Jumat, 17 Februari 2012

Duta Pariwisata Perwakilan Aceh Besar

http://www.acehkita.com/berita/inilah-calon-duta-pariwisata-aceh/


Inilah Calon Duta Pariwisata Aceh

OLEH: HUSAINI - 05/10/2011 - 08:23 WIB
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Sejak Senin (3/10) sore, sebanyak 42 calon Duta Pariwisata Aceh 2011 mulai dikarantina di Hotel Grand Aceh, Banda Aceh. Ke-42 calon tersebut merupakan gabungan dari 21 pasangan Agam-Inong perwakilan kabupaten/kota di Aceh.
Berikut nama-nama 21 pasangan Agam-Inong dari masing-masing kabupaten/kota yang sedang mengikuti serangkaian proses seleksi untuk menjadi Duta Pariwisata Aceh 2011:
1. Sabang: M Iqbal Rizki Ananda dan Sukma Nurhikmah
2. Banda Aceh: Ichwan dan Shella Natasya
3. Aceh Besar: Zulfikar dan Rizky Noviyanti
4. Pidie: Muhyuddin M Nur dan Jasmi
5. Pidie Jaya: Alfajar dan Aminah Ilyyin
6  Bireuen: Dais dan Ria Zulzannah
7. Lhokseumawe: Musrafi dan Tasya Meisheilla Aditya
8. Aceh Utara: Herry Agam Prakoso dan Nur Huriyah
9. Aceh Tengah: Mukhlis Muhdan Bintang dan Dewi Sumita B
10. Bener Meriah: Juanto dan Ismi Niara Bina
11. Langsa: M Ridha Ahyat dan Syarifah Farah Reviana
12. Aceh Tamiang: Teuku Vika Azhar dan Citra Al Humaira
13. Aceh Timur: Teuku Ighfar dan Ayu Aidilla Putri
14. Gayo Lues: Tannyron Putra D dan Dessy Wahyuni
15. Aceh Barat: Reza Prasetya Putra dan Melivia Herliani
16. Simeulue: Pandu Satria dan Nurul Hildayanti
17. Aceh Barat Daya: Heryanto Marzuki dan hardianti Anhar
18. Aceh Selatan: Raiyan Fairozi dan Oktafani
19. Aceh Singkil: Rajoki dan Irmayati Manik
20. Nagan Raya: Oka Mahendra dan Rovia Fadilla
21. Subulussalam: M Prana Astaman dan Ayu Agnetha
Dari ke-42 calon tersebut, menurut informasi yang diperoleh acehkita.com dari Mirjawal sebagai salah seorang panitia dari Event Organizer Dimensi Entertainment, akan dipilih satu Agam dan Inong sebagai pasangan Duta Pariwisata Aceh 2011.
“Di sini yang dinilai secara personal masing-masing, bukan atas nama pasangan Agam-Inong satu daerah. Bisa jadi Agamnya terpilih dari kabupaten ini, dan Inongnya terpilih dari kabupaten lain,” ujar dia.
Kegiatan di karantina akan berakhir hingga malam penobatan pada malam ini (Rabu, 5/10) yang akan digelar di Taman Budaya. Duta Pariwisata Aceh 2011 yang terpilih nantinya berhak mewakili Provinsi Aceh ke pemilihan duta pariwisata tingkat nasional. []

Cerita Si Miskin


Beratapkan daun rumbia, berbilik bambo dan beralas tanah merah basah, seorang gadis kecil duduk meringkuk kedinginan karena di luar sana hujan turun dengan derasnya. Atap rumbia tah mampu membendung air hujan yang tak henti-hentinya menghujam gubuk kecil itu. Tetesan air merembes membasahi tubuh kecil Dinda, itulah nama gadis kecil itu. Tubuhnya bergetar. Wajahnya pucat. Perutnya kosong kelaparan menanti ibunya yang sudah dua hari ini tidak kunjung pulang. Biasanya si Ibu selalu membawa pulang sedikit makanan, setidaknya ia dapat memakan sebuah ubi dengan potongan kecil yang dicuri ibunya dari pasar.
“Kamu kira mencuri itu gampang, hah? Kalau ibu ketauan mencuri, ibu bisa dipukuli habis-habisan makanya ibu hanya bisa mengambil ubi yang paling kecil agar tidak ketauan.” Ujar ibunya emosi ketika Dinda bertanya mengapa hanya membawa sepotong ubi kecil untuknya sedangkan perutnya sudah sangat kelaparan.
Dinda jadi terpikir akan perkataan ibunya waktu itu. “…Kalau ibu ketauan mencuri, ibu bisa dipukuli habis-habisan…”
“Ibu…” gumamnya mendongkakkan kepala.
Dinda langsung berpikir ada hal yang buruk yang terjadi pada ibunya karena sudah dua hari ini tak kunjung pulang. Meski tubuh kecil itu kedinginan, Dinda memaksakan dirinya untuk mencari ibunya di luar sana.
Pertama-tama Dinda berjalan menuju sebuah kebun ubi, tempat di mana dulu ibunya ketahuan mencuri dan dipukuli oleh orang-orang sekampung.
“Ibu kamu? Mana saya tau? Kalaupun saya melihat ibu kamu itu tentu saya akan segera memukulinya lagi. Atau jangan-jangan kamu ke sini juga untuk mencuri seperti ibumu ya?” Tanya pemilik kebun itu dengan kasarnya.
Dinda berusaha menjelaskan namun usahanya hanyalah sia-sia.
Dinda kembali berjalan menyusuri jalan setapak menuju kota, mencari pasar langganan tempat ibunya beraksi.
“Pak, liat ibu saya gak?” Tanya Dinda dengan lugunya.
“Ah, pura-pura nanya ibu padahal kamu kesini mau mencuri ya? Sana pergi! Atau kamu mau saya teriakin maling ya?” pria hitam bertubuh tambun itu mengusir Dinda juga dengan kasarnya, sama seperti pemilik kebun ubi tadi.
Dinda menangis. Bukan hanya karena ia dihina dan kehilangan ibunya, namun ia juga merasakan sakit erut yang teramat sangat.
Dinda terus menyusuri jalanan dipasar itu tanpa beralaskan sandal dan tanpa diatapi payung meski hujan belum berhenti namun langkahnya tak goyah.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Dinda. Tubuh Dinda berbalik.
“Ibu?” katanya lirih. Bibirnya bergetar.
Dilihat ibunya yang kini sangat mempesona. Tubuhnya dibalut oleh jas hujan dan kepalanya dipayungi oleh payung bening yang cantik. Tangan ibunya memegang tas kecil berwarna merah, seragam dengan gaun yang dikenakannya.
Dinda begitu senang melihat ibunya kini telah ada di depan matanya sebelum ibunya berbisik panjang.
“Nak, ambillah tas ibu lalu kamu lari dengan cepat. Nanti ibu akan meneriakimu copet, orang-orang akan mengejarmu lalu membawamu kesuatu tempat untuk diintrogasi. Nanti kamu bilang kalau kamu hidup sebatang kara. Mereka akan mengasihanimu dan akan mengangkatmu sebagai anak. Lihat ibu, ibu juga mengalami hal yang sama, Nak. Kamu jangan takut. Ibu akan menolongmu bila terjadi apa-apa.” Bisik ibunya begitu yakin di telinga anaknya.
Dinda menggelengkan kepalanya namun ibunya memaksa.
Setelah berpikir, Dinda mengikuti ajaran ibunya. Ia berlari namun tidak dapat berlari kencang karena perutnya yang sakit. Justru langkahnya tertatih, sedangkan ibunya telah meneriaki Dinda dengan sebutan ‘copet’.
Sekerumunan orang-orang mengejar Dinda. Dinda ketakutan. Ia berlari sambil terus melihat kebelakang sehingga ia tidak dapat berkonsentrasi. Tanpa sadar Dinda telah masuk ke jalan raya dan ia berlari menyebrangi jalan itu namun sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh mungil Dinda.
Waktu seakan terhenti. Dari kepala Dinda mengalir darah segar yang langsung dibersihkan oleh hujan. Tubuhnya menggelepar dengan tangan yang masih memegang erat dompet ibunya.
Mata ibunya terbuka lebar. Mulutnya menganga tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya tau apa yang telah ia ajarkan pada putinya adalah suatu kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan.
Nasi sudah menjadi bubur. Semua hanya dapat menjadi pelajaran.

Johan VS Siti Noerbaya


Tahun 2012
"What??? Mami tau 'kan ini tahun berapa? 2012, Mi, 2012! Kiamat udah dekat, Mi! Mana ada lagi acara jodoh-jodohan kayak jaman Siti Nurbaya." Risty menolak mentah-mentah permintaan maminya.
"Tapi, Risty, tahun itu sama sekali tidak mempengaruhi acara perjodohan." Kekeuh Maminya sambil trus menyulam di depan TV.
"Ngaruh donk, Mi! Sekarang itu lagi trend-nya Jodi atau Johan!"
"Maksudnya? Kamu punya dua pacar ya?"
"Nggak, Mi. Tuh kan, Mami kuno sih... Jodi itu, jodoh di tinggal mati. Kalo Johan, jodoh di tangan Tuhan!"
"Trend apaan itu mau-maunya jadi janda. Pemikiran kamu tuh yang kuno!" Ujar mami sembari meninggalkan Risty yang cemberut.
Risty mulai bingung dan tidak bersemangat. Ia berpikir betapa sia-sia usahanya selama ini untuk mendapatkan Patra, seseorang yang sudah lama ia idam-idamkan. Apabila ia benar-benar harus menikah dengan anak teman Maminya itu, berarti memang semua usahanya ya GAGAL!
Sekarang umur Risty genap 20 tahun dan itu artinya sudah sampailah ia pada prinsipnya.
"Seorang Risty akan menerima dan siap menikah dengan siapapun yang ingin menjadi suaminya kelak apabila hingga di umur yang ke-20 itu Risty belum bisa depetin cinta Patra. Titik!"  katanya waktu itu.
Risty uring-uringan di kamarnya. Ia berpikir, seandainya saja ia tidak terlalu berpatokan pada Patra dan menerima Edo, Rana atau Denis menjadi kekasihnya pasti Maminya tidak akan menjodohkannya dengan laki-laki misterius itu. Tapi mana mungkin Risty bisa berpacaran dengan orang yang tidak diinginkannya sama sekali. Di dalam hatinya, ia hanya menyediakan tempat untuk Patra.
'Tok..tok..tok..'
"Risty, ayo makan. Jangan terus mengurung diri di kamar!" Seru Mami di depan kamar Risty setelah sempat mengetuk pintunya.
"Iya, Mi." Sahut Risty dengan suara manja dan malasnya.
Di ruang makan, Risty hanya mengaduk-aduk nasi goreng di piringnya dan terlihat tidak berminat sama sekali untuk memakannya. Mami yang sudah tahu persoalan itu tidak ambil pusing, lain dengan Papinya. Kening laki-laki yang hanya memiliki putri semata wayang itu berkerut seperti cemas.
"Risty, kamu kenapa, Sayang?" tanyanya cemas.
Risty menggeleng lemah.
"Kalau ada masalah cerita dong sama Papi."
Risty masih tetap menggeleng dengan bibir yang sengaja dimanyunkan.
"Ya udah, Papi tau gimana cara menghibur kamu, dengerin Papi baik-baik." Ujar Papi penuh keyakinan. "Papi punya kenalan seorang anak muda yang sukses. Dia keren lho, Ty. Papi janji sama dia ingin ngenalin kamu sama dia. Tadi Papi udah ceritain soal kamu ke cowok itu. Dia tuh gantengnya sama kayak Papi, pasti kamu bakal langsung suka deh sama dia, Papi jamin! Hehehe..."
Tentu saja kata-kata Papinya itu sangatlah membuat Risty beserta Mami shock seketika. Bahkan tangan Risty yang tadinya memegang sendok dan garpu menjadi lemas, dan membuat benda-benda imut itu terjatuh. Sedangkan Mami melongok namun menyiratkan protes di sana.
"Lho, kalian kenapa? Risty? Mami?"
Risty tak menjawab. Hatinya semakin kesal. Ia meninggalkan meja makan dengan terburu-buru.
"Mami?" Papi mengharapkan Mami dapat memberikan jawaban atas sikap putrinya.
"Risty itu ga mau dijodohin kayak gitu, Pi. Tadi sore Mami mau jodohin dia sama anak temen Mami, tapi dia nolak. Katanya sekarang udah gak jamannya dijodohin gitu. Nah, sekarang Papi malah ngomongin hal yang sama dengan Risty, ya tambah kesel dong dianya."
"Lho, kok gitu? Biar Papi samperin Risty-lah."
Papi meninggalkan ruang makan yang diikuti oleh langkah Mami di belakangnya.
"Risty, boleh Papi masuk?" Tanya Papi setelah mengetuk pintu kamar Risty.
Risty tidak menjawab.
Papi mencoba membuka pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci.
Papi yang sangat memanjakan Risty kini duduk di dekat putrinya sambil membelai rambut Risty yang lurus panjang. "Papi gak maksa kamu suka sama pilihan Papi kok. Tapi ya setidaknya kamu coba ketemu dulu aja sama cowok itu."
"Iya, kenalan dulu aja, Ty. Mana tau bisa jadi teman baik."
"Kok teman sih, Mi?"
"Maksud Mami, kalo gak bisa jadi pacar ‘kan bisa jadi teman, Pi."
"Halah, ngeles aja!" Ujar Papi mengibaskan tangannya. "Jadi gimana, Ty?"
Setelah terus dibujuk dan setelah sejenak berpikir, akhirnya Risty mengiyakan permintaan Mami dan Papinya.
“Ya memang gak ada salahnya kalo cuma kenalan, itung-itung nambah temen.” Pikir Risty.
Akhirnya pertemuan yang dimaksud diselenggarakan pada hari ibu-ibu arisan. Maksudnya agar Risty juga bisa sekalian berkenalan dengan anak teman Maminya itu, sedangkan Papi batal mengajak cowok yang ingin dikenalkan pada putrinya karena Mami memaksa Papi dan Risty ikut ke acara arisan ini.
“Satu-satu dong, Pi.. kan Mami yang duluan nyomblangin Risty dengan anak temen Mami. Lagian ini juga sekalian arisan..” alasan Mami ketika Papi memaksa untuk mengenalkan Risty dengan si cowok ‘itu’ pada hari yang sama. “Kayak gak ada hari lain aja..” katanya lagi di dalam keriuhan acara.
"Lho, Barry kok di sini?" Tanya Risty kaget dengan keberadaan teman SMA-nya pada acara itu.
"Ini kan rumahku. Kamu sendiri ngapain, ikut arisan juga?"
Mendengar perbincangan Barry dan Risty, Mami dan Papi kompak sumringah walau sedikit kaget.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya mereka dengan satu suara.
Risty mengangguk.
"Ini anak teman Mami?" Tanya Papi dengan dahi berkerut.
"Iya. Ini anak yang Papi bilang?"
"Ssstt" Jari Papi menempel di bibir Mami.
Barry yang merasa agak asing berada di tengah-tengah keluarga itu langsung mengambil sikap. " Om, Tante, saya permisi dulu." Ujarnya sedikit membungkuk.
"Barry, Kakak kamu mana?” Tanya Papa sebelum Barry berlalu pergi.
“Ada, Om. Dia lagi di kamar. Mau saya panggilin?”
“Boleh. Om tunggu di sini ya.."
“Sip, Om.. gak nyangka, ternyata anak yang Om omongin itu Risty ya?”
“Ssst… jangan ngomong sekarang. Hehehe… Ayo, dong tolong panggilin Kakak kamu biar Om ada temen ngobrol secara dewasa. Hahaha…”
"Hehehe.. Tunggu sebentar ya, Om, Tante, Risty, aku tinggal ya." Pamit Barry sekali lagi.
Saat Barry meminggalkan Risty, Mami mulai sibuk kembali ke dunia Siti Nurbaya dan itu membuat Risty agak malas. Ia merasa begitu menyesal mau ikut ke acara ini kalau ternyata orang yang ingin dijodohkan dengannya adalah Barry, dan itu sama sekali tidak menambah nama dalam daftar temannya. Sedangkan Papi hanya diam mendengar ocehan-ocehan Mami yang tampaknya senang karena berpikir bahwa tipe calon menantu yang diimpikannya adalah sama.
"Sore, Om.." Suara sapaan itu berhasil menggetarkan suara hati Risty. Tanpa sengaja Risty yang tadinya membuang pandangannya ke luar jendela, kini langsung menetapkan pandangannya pada satu wajah yang memiliki suara yang mengandung magnet cinta itu.
"Risty?" Si epmunya suara itu ternyata juga terkejut dengan keberadaan wanita yang pernah membuatnya mabuk kepayang.
Risty tersenyum sumringah tanpa dapat berbuat apa-apa. Ia menyesal telah berpikir yang salah sebelumnya.
"Anak Om?"
"Iya. Kamu kenal?"
"Iya. Ini anak yang Om ceritain?"
"Iya, gimana?"
"Om, Tante, saya merasa sedang mimpi. Ketika kenyataan udah dalam genggaman, manusia merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang paling beruntung dan sempurna, begitu juga saya. Tapi kesempurnaan itu terletak pada jawaban Risty."
"Maksudnya?" Tanya Mami tidak mengerti.
"Risty, aku suka sama kamu sejak lama dan selalu berharap kita bisa menjalani hidup bersama. Dulu aku bukanlah siapa-siapa yang berani ngajak kamu kencan, tapi sekarang aku udah ngerasa udah waktunya untuk ngajak kamu kencan. Rizty, kamu kau kan kencan sama aku? Atau... will you married me?" Tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya.
Risty tersenyum bahagia sambil mengangguk pasti menyambut uluran tangan pria itu.
Patra. Dialah laki-laki yang sangat diinginkan dan menginginkan Risty. Tuhan telah mengatur semuanya. Ya, jodoh memang di tangan Tuhan. Johan!



Selasa, 31 Januari 2012

Tinta Emas L. K. Ara - Serambi Indonesia

Tinta Emas L. K. Ara - Serambi Indonesia

Sebuah pena bertinta emas
Menarikmu dalam kemenangan
Kau rajut kata demi kata
Menjadi syair yang kaya akan makna

Sebuah pena bertinta emas
Menjadi saksi keberhasilanmu
Ketika syair menjadi piala
Adalah kebanggaan yang tercipta

Sebuah pena bertinta emas
Kau hasilkan karya yang sungguh berharga
Bak intan permata yang bercahaya
Ialah dirimu, L. K. Ara

Sebuah pena bertinta emas
Adalah karena sentuhan penyair setia
Yang menuangkan harap dalam barisan kata
Dan menjadikan kata bak mahkota raja

Sebuah pena bertinta emas
Ialah milik penyair dari kota tercinta
Sosoknya begitu mulia
Tertunduk kagum aku padanya

Sebuah pena bertinta emas
Mengantarkan aku pada sebuah nama
Ingin aku rasuki panjang kisahnya
Agar  aku menjadi dirinya, L. K. Ara

Senin, 08 Agustus 2011

Johana masih sibuk membuka lembaran demi lembaran diary kecil yang ia tulis masa ia duduk di bangku SD sambil tersenyum kecil membayangkan betapa mungilnya ia saat menuliskan diary itu. Diary yang jauh lebih mirip dengan sebuah kliping kebudayaan negeri sakura itu benar-benar berharga baginya. Diary yang tersimpan hampir 20 tahun dalam keadaan yang masih utuh.
"Kalo foto pake kimono sambil megang bunga sakura pasti bagus. Ya 'kan?!" Wajah ayu Johana mendongkak ke arah Dennis.
"Ga mesti dengan kimono, pake daster juga bagus kok. Cantik.." Dennis menyentil pelan hidung mancung Johana.
Johana menyengir. "Karena aku terlahir sebagai wanita cantik!" Guraunya sambil menimpuki kepala Dennis dengan diary-nya.
Tawa renyah sepasang kekasih itu menghiasi ruang tengah rumah Johana. Rasanya tak ada beban yang menyelimuti mereka. Semua terasa ringan, sampai tiba-tiba diary itu tersobek karena Dennis mencoba merebutnya dari tangan Johana.
"Dennis!!!" Suara Johana melengking dan matanya yang indah kini terlihat begitu menyeramkan. "Kamu ngerusak diary aku!"
"Maaf, Jo.. Itu 'kan ga sengaja. Aku..."
"Apanya yang ga sengaja? Kamu sengaja 'kan narik diary itu dari tangan aku. Tuh liat, gambar sakura sama kimononya jadi robek.." Suara Johana lirih. Dari raut wajahnya ia menggambarkan kekecewaan yang begitu mendalam.
"Bisa di lem lagi 'kan, Jo?"
Johana menggeleng. Bukan karena ia terlalu kekanak-kanakan, tapi karena menurutnya diary itu terlalu berharga dari apapun. Bahkan dari Dennis sekalipun.
"Sayang, apa sih yang membuatnya begitu spesial? Gambar ini bisa kita cari di internet, Jo.. Ayolah, jangan sedih lagi.. Jangan manyun. Senyum donk.."
"Bukan itu masalahnya, Den.."
"Lantas?"
Sebutir mutiara bening menetes dari sudut mata Johana. "Lupain aja. Ga ada yang perlu dipermasalahkan." Ujarnya menghapus butiran kesedihan itu.