Selasa, 20 Maret 2012

Drama Kehidupan


Hidup adalah drama dunia
Yang dipenuhi laci-laci penuh rahasia
Ada cinta juga benci
Ada amarah, ada pula bahagia

Hidup ini seperti drama
Tak ada yang tau siapa yang tengah menjadi wayang
Siapa yang menjadi dalang
Semua seakan tengah berlakon

Hidup ini penuh sandiwara
Ada air mata buaya
Ada senyum yang menusuk
Dan semuanya buta untuk melihat

Dan kita..
Adalah jiwa yang tersakiti
Jiwa yang menyakiti
Jiwa yang berperan…

Untukmu, Pejuang


Ukiran namanya telah terukir di batu nisan
Namun harumnya tetap mewangi di negeri
Ajarannya tetap diselami
Pengorbanannya masih dinikmati

Pejuang-pejuang yang tangguh
Mereka korbankan nyawa demi rakyatnya
Membela Negara dengan suka cita
Meski akhirnya mereka terluka

Terima kasih pahlawanku
Jasamu akan selalu kukenang
Nengeri ini akan ku sayang
Agar tak sia-sia kau berjuang

Sepucuk Surat untuk Ibu


Kuterima sepucuk surat yang layu
Penuh hamburan air mata dari seorang ibu
Di dalam suratnya
Ia berbicara dengan tangis yang sendu serta pilu
Suratnya berkata bahwa ia takut aku berpaling ketika ia mulai enta
Ia takut aku jauhi karena baunya
Ia menangis karena takut aku marahi
Ketika ia telah sering lupa dan salah bicara

Sepucuk surat yang layu
Ia bercerita tentang masa yang lalu
Kala ia mengasuhku dengan kasih
Sabar mendidikku dengan manja
Pula senang mengdengar ceritaku yang duduk dipangkuannya
Dalam suratnya ia berkata bahwa ia takut bila nanti kututup telingaku
Ketika ia bercerita gundahnya pula sukanya
Pula ia takut aku tak memberinya cinta
Seperti ketika aku mencintainya dulu

Kutulis sepucuk surat indah dan abadi di hatiku
Pula hatinya,
“Ibu, selamanya aku mencintaimu”

Sepenggal Do'a untuk Ibu


Ibu
Tatap matamu padaku masih saja sama
Selalu menganggapku bak ranting kecil
Yang rentan patah dikala angin bertiup

Ibu
Bila kau dapat membaca hatiku
Kau akan tau betapa sesungguhnya aku tak ingin seperti ranting
Ku ingin menjadi rindang yang dapat melindungimu

Ibu
Dalam sujudmu tak pernah lupa kau mendo’akanku
Hingga air mata untukku menetes di sajadahmu
 Pantaskah aku terima itu, Ibu?

Ibu
Aku malu menerima cinta tulusmu
Sungguh aku tak mampu membalas segala yang kau berikan
Aku hanya mampu berdo’a

Bila nanti memang kurapuh
Aku pergi meninggalkanmu lebih dulu
Aku akan ke surga
Kucari malaikat-Nya
Lalu kukirimkan malaikat-malaikat itu turun ke bumi
Agar mereka bisa membahagiakanmu
Karena kebahagiaanmu adalah nyawaku

Enggan Pergi


Aku tak ingin bangun
Untuk sekedar duduk atau pun berdiri
Aku tak ingin pergi
Baik selangkah atau selamanya

Aku ingin di sini
Menjaga tanah perjuangan pahlawanku
Di negeri Aceh tercinta
Kuingin hidup-matiku disini

Teuku Umar
Cut Meutia
Cut Nyak Dhien
Pahlawanku
Bantu aku
Aku tak ingin pergi
Biarkan aku tetap di sini
Menjaga tanah hasil perjuanganmu