Berbagi cerita, curhatan hati dengan niat akan dapat menghasilkan sesuatu yang baru yang jauh lebih bagus daripada sebelumnya... curhatan yang terbingkai dalam puisi, narasi dan deskripsi... dengan uraian kata-kata yang sengaja terukir indah dan diikuti oleh kiasan-kiasan cinta dalam setiap kata-katanya... salam cinta, Itnayivon Ikzir
Selasa, 24 Juli 2012
Pengumuman Lolos Antologi
PENGUMUMAN NASKAH LOLOS ANTOLOGI PENGARUH FESBUK BAGI PEREMPUAN INDONESIA
Alhamdulillah, selesai sudah penyeleksian naskah lolos antologi pengaruh fesbuk terhadap perempuan Indonesia. Hal-hal yang menjadi pertimbangan naskah lolos:
-Ide berbeda. Banyak ide yang mirip, misalnya tentang belajar menulis di fesbuk atau berjualan online di fesbuk, dan perselingkuhan di fesbuk, maka harus dipilih salah satu.
-Dituturkan dengan bahasa yang mudah dimengerti, menggunakan kata “saya” atau “aku.”
-Inspiratif.
-Berhikmah, tapi tidak menggurui.
Berikut naskah-naskah yang lolos. Bagi yang tidak lolos, mohon untuk tidak berkecil hati. Setiap peserta yang lolos akan dihubungi apabila naskah dalam proses penerbitan. Honorarium diberikan setelah naskah diterbitkan. Selanjutnya adalah menyusun dan mengedit naskah-naskah yang sudah terpilih.
1.Gara-Gara Facebook Jadi Susah Jaga Diri, Aisyah Al Farisi
2.Saat Aku Harus Menjadi Hacker, Ragil Kuning
3.Ilmu Bertambah, Fitnah Dicegah, Ary Nur Azizah
4.Fesbuk dan Raiyya, Isky Kamil
5.Sepenggal Kisah dalam Facebook, Aisyah Pratiyo
6.Facebook dan Pengajian, Faiza Saram
7.Alhamdulillah, Juniar Sinaga
8.Bertemu Editor Abal-Abal, Sri Widiyastuti
9.Bukan Salah Fesbuk, Khalida Fatiha/ Elin Nurlela
10.Akun Palsu dan Hati yang Terbelah, Julie Nava
11.Pengaruh Negatif Fesbuk, Agustiarini
12.Statusnya dan Status Keluarga, Rizky Noviyanti
13.Belanja Online, Hemat, dan Nyaman di Facebook, Nathalia Diana Pitaloka
14.Bisnis Online, Sukses, Untung Besar, Ila Rizky Nidiana
15.Seperti Mati Saat Itu, Naira Nashwa/ Iim Muhimatussalamah
16.Sekolah Baru Bernama Fesbuk, Dea Paramita
17.Menemukan Bakat Berkat Fesbuk, Ida Tahmidah
18.Facebook Membunuhku, Aulia Izzati
19.The Facebook, Anggia Putri Nilasari
20.They Know What You Did On Facebook, Nalaa
21.Facebook, CLBK, dan Sesal, Rosemary Ashalba
22.Menjaga Silaturahim Melalui Facebook, Triana Dewi
23.Diperkosa oleh Kekasih Fesbuk, Asri Inayah
24.Aku, Bayiku, dan Facebookku, Ummu Sina
25.Awas, Dia Masih Berkeliaran di Sini!, Puan Nycta
PENANGGUNG JAWAB
PIPIET SENJA
LEYLA HANA
Sabtu, 09 Juni 2012
Cerita Sang Bunda
sering aku marah
padanya
sering aku
membentaknya
tanpa kutau luka
tengah membelenggunya
sering aku kesal
padanya
sering aku acuh
padanya
tanpa kutau pahit
tengah membanjirinya
bergantung
hidupnya dalam kelam
yang ia
sembunyikan pada bilik hati terdalam
yang hanya ia
ceritakan pada malam
ia hidup dengan
diselimuti duka
tanpa cerita
bahagia
ialah sang ibunda
tercinta
malam ini kulihat
lagi mendung dimatanya
hujan kembali
membasahi pipinya
apa yang engkau
pikirkan, bunda?
menangis ia
ceritakan kisah hidupnya
tentang
penghianatan kekasih hatinya
begitu sakitkah
engkau, bunda?
bunda..
ingin kubuatkan
surga untukmu
ingin kuciptakan
bahagia
namun aku tak
mampu
bunda..
hapuslah air
matamu
genggam tanganku
bersama kita
lewati duka
bunda..
ijinkan aku
memelukmu
agar dapat kuberi
sedikit damai
agar kembali
kulihat senyum di bibirmu
Friendship Rocks
True friends are for life
Until the end
They're more than special
They're your bestest friends.
They're the ones you can go to
When you're in despair
The ones that'll help you
Even when you got gum in your hair!
They're the ones who'll laugh
And go laughing with you all through the night
The ones who'll help you
Help you with all their might
To have a good friend
You have to be one
So be nice to one another
So you can be friends forever
And that\'s how to be the best friend you can be
Until the end
They're more than special
They're your bestest friends.
They're the ones you can go to
When you're in despair
The ones that'll help you
Even when you got gum in your hair!
They're the ones who'll laugh
And go laughing with you all through the night
The ones who'll help you
Help you with all their might
To have a good friend
You have to be one
So be nice to one another
So you can be friends forever
And that\'s how to be the best friend you can be
My Life - My Way
Let me but live my life from year to year
With forward face and unreluctant soul
Not hurrying to, nor turning from the goal
Not mourning for the things that disappear
In the dim past, nor holding back in fear
From what the future veils; but with a whole
And happy heart, that pays its toll
To Youth and Age, and travels on with cheer
So let the way wind up the hill or down
O'er rough or smooth, the journey will be joy
Still seeking what I sought when but a boy
New friendship, high adventure, and a crown
My heart will keep the courage of the quest
And hope the road's last turn will be the best
With forward face and unreluctant soul
Not hurrying to, nor turning from the goal
Not mourning for the things that disappear
In the dim past, nor holding back in fear
From what the future veils; but with a whole
And happy heart, that pays its toll
To Youth and Age, and travels on with cheer
So let the way wind up the hill or down
O'er rough or smooth, the journey will be joy
Still seeking what I sought when but a boy
New friendship, high adventure, and a crown
My heart will keep the courage of the quest
And hope the road's last turn will be the best
Sabtu, 24 Maret 2012
Store of Corpse - Part VI
Enam
“Ketika
Sandra berteriak histeris, Janis membawanya ke lantai dua dan tak lama Cindy
mengikutinya, mereka masuk ke dalam ruangan yang mungkin kedap suara. Aku tidak
bisa mendengar pembicaraan mereka, sama sekali. Dan tak lama setelah itu aku
melihat Cindy keluar dengan tergesa-gesa, ia menuju sebuah apotik untuk membeli
extacy yang akhirnya ia selipkan ke dalam tas Sandra. Dengan begitu, mereka
menuduh Sandra sebagai pemakai dan tak heran bila Sandra berhalusinasi. Ide
yang sangat cemerlang bukan?!” seorang intel berbicara dengan yakinnya.
“Lalu
bagaimana hasil tes DNA Sandra?”
“Negatif.”
“Kau
punya bukti lain untuk memperkuat dugaan kita terhadap keluarga Murders?”
“Ya…
aku rasa rekaman CCTV pada apotik milik Romi lumayan kuat untuk dijadikan
barang bukti.”
“Ada
yang lebih akurat?”
“Aku
akan segera menemukannya.” Ujar intel itu seraya berlalu. “Oh, ya, kau akan
terkejut ketika melihat dalang dari semua itu, aku yakin kau akan terpuruk
ketika melihat mantan kekasihmu mendekam di penjara. Hahaha…” katanya lagi
seraya berlalu.
***
Selasa, 20 Maret 2012
Store of Corpse - Part V
Janis memasukkan
tangannya ke dalam sebuah kantong plastic dan kemudian mengikatnya erat.
Tangannya menjulur panjang mengambil sebuah jari yang tidak tergenggam dengan
kuat dari tangan seorang gadis yang sedaritadi masih belum menyadarkan diri.
Air mata mengalir dari
mata indah Janis karena sesungguhnya betapa ia pun geli dengan binatang kecil
hasil pembuahan lalat yang terbentuk menjadi lundi-lundi kecil berwarna kuning
atau putih, bahkan ada pula yang berwarna coklat, semuanya tergantung atas apa
yang dimakannya. Kali ini lundi-lundi kecil itu berwarna putih pucat, mungkin karena
kurangnya protein yang ia serap dari jari kecil itu.
Sambil terus menangis
Janis mengulurkan tangannya mengambil benda mungil itu dalu memasukannya ke
dalam sebuah kantong plastic yang sudah ia siapkan di tangan kirinya.
Lekas-lekas ia mencopot kantong plastic yang terikat di tangan kanannya yang
sudah disinggahi beberapa belatung yang menempel. Plastic itu juga ia selipkan
didalam kantong plastic satunya lagi yang sudah berisikan sepotong jari.
Berlalu, Janis mencari
sebuah benda berukuran kecil yang kira-kira ukurannya sama dengan sepotong jari
tadi untuk menyamarkan kejadian yang baru saja ia alami. Tak lupa, Janis juga
sembersihkan semua bukti-bukti yang kira-kira menjurus ke sana.
Di dalam laci meja
kerjanya, Janis menemukan sebuah plastisin berwarna kuninmg kecoklatan. Ia
merasa bersyukur karena ia tau bahwa benda lunak itu tentu bisa membantunya.
Gadis itu telah
sadarkan diri ketika Janis membauinya dengan minyak angin.
“Kamu baik-baik saja?”
Tanya Janis was-was.
Gadis itu bangkit
sambil memegang kepalanya lalu menjerit histeris. Tangannya melempar plastisin
itu jauh-jauh darinya
Janis hanya melihat
lambungan benda lunak itu.
“Hei, kamu kenapa?”
Tanya Janis lagi seolah ia tidah tau apa yang terjadi.
Gadis itu menangis.
“Apa kau juga akan membunuhkku?”
tanyanya sambil menangis tersedu.
“Aku? Membunuhmu?
Hahaha… kau gila.” Ujar Janis sambil mengacak rambut pirang gadis di depannya.
Gadis itu mendongkak.
Memelas.
“Kau kira aku ini
seorang pembunuh? Apa yang membuatmu berpikir demikian?”
“Jari itu…”
“Jari?”
“Ya, jari. Sepotong
jari yang baru saja aku buang tadi.”
Janis bangkit, berjalan
untuk mengambil ‘jari’ yang dimaksud oleh si gadis.
Di dekat ‘jari’ itu
Janis masih berjongkok. “Maksudmu ini?” Tanya Janis masih dalam posisi yang sama.
“Ini hanya sebuah
plastisin. Apakah benda ini benar.-benar menyerupai sebuah jari? Hmmm… maksudku
sepotong jari.” Janis melangkah, mendekat. Memberikan plastisin itu ke tangan
gadis yang kini di sampingnya.
Keningnya berkerut.
Matanya menyipit. Mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu namun lebih terlihat
seperti seorang yang terkejut.
“Tapi ini ga mungkin.
Tadi…”
“Tenanglah. Tunggu
sebentar, aku ambilkan minum untukmu.” Kata Janis setelah memotong kata-kata
gadis yang kini dilanda kebingungan.
Janis mengambil segelas
air di sudut lain ruangan yang berbentuk persegi itu. Ia memastikan pada
dirinya bahwa semua akan baik-baik saja hingga ia teringat sekantong plastic
berbelatung masih menunggunya di atas meja di depan sebuah sofa panjang nan
empuk yang sedang diduduki seorang gadis remaja.
Segera Janis berbalik
dengan terburu-buru.
“Maaf, ini bekas
pembalutku. Aku lupa membuangnya tadi.” Kata Janis menjelaskan tanpa didahului
sebuah pertanyaan dari seseorang di depannya.
Plastic itu disimpan di
dalam lemari kerjanya dan gerakan itu direkam oleh sepasanga mata lain di dalam
ruang kerja mewah itu.
“Kau menyimpannya
disana, sampah pembalut..”
Janis merasa telah
salah mengambil sikap bahkan langkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kali ini entah apa lagi yang harus ia katakana untuk membohongi seorang di
ujung sana.
Pintu terbuka. Itu
menyelamatkan Janis dari situasi yang menegangkan.
“Kau sudah baikan?”
Tanya Cindy dari balik pintu ketika menemukan seorang yang tadi pingsan kini
tengah duduk manis meski masih di atas sofa yang sama.
“Ya, aku lebih baik.
Kau membawa tasku?”
“Ya. Aku membawakannya
untukmu. Aku terkejut saat kau pingsan tadi. Aku Cindy, sepupu Janis.” Cindy
menjulurkan tangannya.
“Sandra.” Gadis itu
menyambut tangan Cindy dengan baik. “Terima kasih sudah menolongku.”
Janis mendekat sambil
membawakan segelas air putih di tangannya lalu menyodorkannya pada Sandra dan
tak lupa mempersilahkannya untuk minum. Sandra tak lagi ragu pada gerak-gerik
Janis ketika Cindy sudah berada di sampingnya. Awalnya Sandra merasa bbegitu
takut bila harus satu ruangan bersama Janis.
“Aku begitu terkejut
ketika kau menjerit, ceritakan padaku apa yang terjadi.” Ujar Cindy yang
mengundang mata Janis menjadi sinis dan ketakutan.
Ada keraguan pada
Sandra untuk memulai cerita yang seperti mimpi itu, tapi itulah satu-satunya
cara agar ia tau apakah kejadian yang baru saja ia alami itu adalah mimpi
ataukah benar-benar nyata.
“Aku terkejut saat aku
menemukan sepotong jari sewaktu aku menggerogoh kantung kangguru…” Sandra
menarik napas panjang. “Aku tidak bermaksud membuat tokomu ini kembali pada
citra yang buruk, Janis. Maafkan aku.” Sandra menunduk.
Janis diam. Tentu saja
itu benar, toko milik Janis itu akan mengalami kematian ketika kabar yang mengerikan
ini terdengar oleh pengunjungnya, dan yang lebih parah lagi bila kabar ini di
dengar oleh polisi tentu saja polisi itu akan segera memenjarakan Janis karena pada
kasus sebelumnya Janis adalah tersangka, bahkan ia menjadi tahanan bebas karena
belum adanya bukti yang cukup.
“Lalu di mana jari
itu?” Tanya Cindy masih dalam keadaan tenang.
“Aku tidak tau, aku
juga bingung. Sepertinya tadi aku memberikan jari itu pada… Janis.”
“Hahaha…” Cindy tertawa
geli. “Sepertinya kau sedang bermimpi, Sayang. Bila jari itu kau berikan pada
Janis, kurasa ruh Janis sudah sejak tadi meninggalkan jasadnya. Hahaha..”
sambung Cindy menghancurkan kenyataan.
“Ya, kurasa kau
bermimpi.” Janis bersikap dingin.
“Atau mungkin kau
seorang pemakai, bila memang iya aku tidak akan heran bila kau mengigau sambil
berjalan. Bukankah seorang pemakaiterlalu banyak dihampiri khayalan yang tidak
masuk akal?” Cindy berharap Sandra termakan jebakannya.
“Tidak. Bukan. Aku
bukan seorang pemakai.” Sandra berkilah.
“Boleh aku periksa
tasmu?” Tanya Cindy, menang.
Sandra menyodorkan
tasnya. Ia begitu yakin tak aka nada barang apapun di sana kecuali alat-alat
make-up juga alat-alat tulis.
Cindy menggerogoh tas
kecil berwarna pastel itu dan menemukan obat-obatan yang dibungkus plastic
kecil yang baru saja ia dapatkan dari seorang teman barunya, seorang apoteker,
Romi.
“Kau tak bisa mengelak
lagi, Nona Kecil.” Ujar Cindy penuh kemenangan.
Tak hanya Sandra, Janis
pun ikut terkejut. Nnamun mereka hanya bisa diam tak berkutik. Mulut Sandra
menganga tak percaya.
“Tapi aku memang bukan
seorang pemakai!”
“Hmm.. tenanglah, kalau
ini memang bukan punyamu bisa jadi ini ulah temanmu. Aku tidak akan mengadukan
kejadian ini pada orangtuamu.” Ujar Cindy. Segaris senyum kecil tersungging di
bibir tipisnya. “Bila kau sudah agak baikan, pulanglah.” Kata Cindy lagi.
Meski masih dalam keadaan
bingung, Sandra tetap mengambil tasnya dari tangan Cindy kemudian keluar dari
ruangan yang dianggapnya bagai dunia fata morgana.
Store of Corpse - Part IV
Wajah Cindy muncul dari
balik pintu dan menatap heran pada Janis.
“Apa yang terjadi?”
tanyanya cemas.
Janis menarik Cindy
masuk ke dalam ruangannya lalu langsung menutup pintu itu rapat-rapat seakan
pintu itu renggang. Tak lupa Janis menguncinya.
“Ada apa?” Tanya Cindy
lagi. Kali ini suara Cindy jelas menunjukan kekhawatirannya.
Janis meletakkan
telunjuknya di depan bibirnya yang merah akibat lipstick yang di pakainya.
“Berjanjilah hanya kita
yang tau.”
Cindy ragu menjawab
ketika melihat seorang gadis terkapar di sofa yang terletak di sudut ruangan.
“Percaya padaku, ini
tidak ada hubungannya dengan anak itu.” Janis berbisik pelan.
“Katakan, apa yang
sebenarnya terjadi! Kau benar-benar membuat aku bingung, Janis.”
“Baiklah, tapi kau
harus berjanji tidak akan membocorkan hal ini. Kumohon…”
“Ya, baiklah. Ada apa?”
Janis mengajak Cindy
mendekati gadis yang masih pingsan itu dan di tangannya masih ada belatung yang
menggeliat dengan ngeri dan menggelikan. Belatung-belatung itu sepertinya baru
saja muncul dari dalam jari busuk yang entah siapa pemiliknya.
“Ya Tuhan, Janis. Apa
yang sebenarnya terjadi? Jari siapa itu?”
“Entahlah, Cindy, aku
juga bingung. Sekarang apaa yang harus aku lakukan untuk menutupi semua ini?”
Cindy menyoroti Janis
dengan pandangan yang tak biasa. Ia benar-benar mencurigai Janis telah terlibat
sesuatu sehingga mengakibatkan hal-hal seperti ini.
“Percayalah, Cindy, ini
tidak seperti yang kamu kira. Aku sendiri juga tidak tau bagaimana ini semua
bisa terjadi. Aku tidak ingin lagi dibawa ke kantor polisi dan diberi
pertanyaan-pertanyaan aneh seperti waktu itu. Aku benar-benar tidak melakukan
apapun, Cindy. Kumohon percayalah padaku.”
Wajah Janis pucat.
Tangannya bergetar dan dingin meski AC di ruangannya tidak terhitung dalam
derajad yang rendah.
Janis menangis.
Cindy mendekat.
“Tenanglah, aku percaya paadamu. Aku akan segera membantumu. Kau tunggu di
sini.”
Cindy meninggalkan
ruangan itu dan tak sampai semenit, ia kembali.
“Bersihkanlah
belatung-belatung beserta jari itu.”
Setelahnya Cindy pergi
dengan tergesa-gesa. Ia menghidupkan mesin mobilnya namun sebelum itu ia
berpesan pada pegawai di toko itu agar tak terlalu menghiraukan teriakan gadis
tadi yang menurut mata-mata yang tadi mengawasi gadis itu berteriak tiba-tibba
tanpa alasan.
Mobil Cindy melaju
kencang. Tangan kirinya sibuk memencet tombol-tombol kecil blackberry-nya. Ia
tengah berusaha mencari nama teman yang kira-kira dapat membantunya.
Blackberry itu
ditempelkan di telinganya. Tak ada jawaban. Cindy semakin panic. Beberapa orang
teman yang dihubunginya tidak menjawab teleponnya.
‘HUBUNGI AKU SEGERA,
URGENT!!!’
Sending…
Cindy mengirimkan pesan
itu kepada teman-temannya dan kini ia hanya harus menunggu mereka
menghubunginya.
Mobil itu diparkirkan
di depan sebuah apotek.
“Ada yang bisa saya
bantu?” Tanya seorang apoteker pada Cindy.
Cindy mencondongkan
kepalanya ke dekat sang apoteker.
“Ya, aku membutuhkan
obat…” Cindy menyodorkan sejumlah uang yang jumlahnya besar, lalu melanjutkan
kata-katanya, “untuk membuat seseorang amnesia.” Katanya lagi.
Apoteker muda itu
tertawa geli. “Maaf, Nona, maksudmu kau ingin menyuapku dengan sejumlah uang
ini? Hahaha… anda bergurau, Nona. Hahaha…”
Cindy menjadi salah
tingkah dan malu karena seorang antrian dibelakangnya seperti ikut menertawai
Cindy meski tampaknya ia tidak tau persis apa yang terjadi.
“Jangan tertawa. Aku
hanya sedang galau. Lupakan saja.” Kata Cindy hendak berlalu pergi.
“Nona, aku bisa
membantumu. Tunggulah sebentar.” Kata sang apoteker di balik meja kacanya.
Cindy menuruti
permintaan si apoteker dan duduk di kursi besi di dekat pintu masuk, kursi yang
sangat tidak pantas berada di ruangan ber-AC seperti ini.
Setelah ruangan itu
hanya bersisakan dua anak manusia, -setelah berkenalan dengan Cindi- si
apoteker yang ternyata bernama Romi
keluar dari balik meja kerjanya kemudian menghampiri Cindy.
“Katakan, apa yang
membuatmu membutuhkan obat itu? Jujur.. aku sangat membutuhkan uang yang tadi
kau sodorkan padaku.” Aku Romi dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya pada Cindy.
Tak mungkin bila Cindy
harus mengatakan yang sejujurnya pada Romi, itu akan sangat berbahaya. Cindy
memikirkan hal-hal setidaknya masih pantas ia gunakan pada situasi seperti ini.
“Pacarku… tadi ia
melihatku ketika aku berkencan dengan temannya. Aku sangat takut. Aku
membutuhkan obat itu untuk mengelabuinya, kumohon, tolonglah…”
Lagi-lagi Romi tertawa.
Kali ini tawanya lebih ke arah yang berbeda. Ia menertawai Cindy karena ia
mengira kalau Cindy adalah orang yang sangat bodoh hingga Cindy bercerita
tentang masalah pribadinya pada laki-laki itu, mungkin.
“Kau kira aku percaya
pada ucapanmu, Nona?”
Deg!
Jantung Cindy berdetak
tak karuan, ia takut Romi tak ingin bekerjasama dengannya dan malah akan
menyerahkan Cindy pada polisi karena dianggap mencurigakan.
“Tenanglah… aku tau kau
membutuhkan ini.” Romi menyelipkan sebungkus kecil plastic yang berisikan
beberapa obat ke dalam tas Cindy yang sedari tadi ia pangku.
“Apa itu?” bisik Cindy
di telinga Romi.
“Extacy.” Jawab Romi
pula berbisik.
Cindy merasa dalam
posisi yang agak aman meski sebenarnya Cindy jauh lebih was-was daripada
sebelumnya. Bisa saja kalau sebenarnya Romi benar-benar bekerjasama dengan
polisi.
“Kau bisa percaya
padaku.” Romi meyakinkanku. “Aku membutuhkan imbalannya. Hahaha..” kata Romi
lagi sambil ia melirik ke arah dalam tas Cindy, dan Cindy mengerti itu artinya
Romi ingin agar Cindy segera membayarnya.
Sebuah bunyi ‘tut’ di
blackberry milik Cindy memanggil untuk menyentuhnya. Ternyata ada pesan dari
temannya yang bertanya untuk apa aku menghubunginya.
Store of Corpse - Part III
Sejak
hari itu toko milik Janis ramai dengan wartawan dan pengunjung lainnya untuk
melihat-lihat keadaan yang ada. Sedangkan Janis sepertinya sangat tidak
menikmati hal itu. Omset pendapatannya juga menurun drastis. Ini seperti sebuah
olokan yang menjijikan buat Janis. Semua orang yang berkunjung tak lagi membeli
barang-barang yang dijualnya dengan berbagi macam alasan. Ada yang mengatakan
bahwa mereka takut akan memakai pakaian bekas mayat, ada pula yang takut bila
mereka akan mati dan dijadikan seperti menakin yang ternyata adalah mayat
seperti tempo hari. Itu benar-benar membuat Janis jengah.
“Aku
butuh hiburan. Bantu aku nyari orang yang ingin menyewa setengah dari toko
ini.” Ujar Janis lesu. Wajahnya memelas tak bersemangat. Tatapannya kosong
menerawang dari meja kasir.
“Aku
turut prihatin ya, Nis.. tapi apa kamu benar-benar mau nyewain setengah dari
toko ini? Coba kamu pikir-pikir lagi, mungkin ini hanya pikiran sesaat yang
terlintas karena kamu sedang galau.”
Janis
menggeleng. “Toko ini juga ga akan ngasih penghasilan lagi. Mungkin aku akan
mencari pekerjaan baru.” Katanya lagi dengan pasrah atas semua yang terjadi.
“Udah,
sabar aja. Nanti biar aku cari orang yang mau nyewa toko ini.” Ujar Cindy masih
setia pada Janis yang kini hidup semata wayang.
“Sebenernya
bukan itu masalahnya, Ndy. Ada hal lain yang lebih penting dari itu yang aku
pikirin. Tapi it’s ok, biarin gue
berpikir sendirian.” Janis beranjak dari duduknya dan meninggalkan Cindy yang
masih berdiri dengan tangan yang menopang di depan meja kasir.
Cindy
menghela napas panjang.
***
Ternyata
tak begitu membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan situasi yang
mencekam itu kembali seperti semula. Rumor tentang toko Janis tak lagi beredar
dan kini telah kembali dipenuhi pembeli. Janis kembali bersemangat dengan
situasi seperti ini. Di belakangnya, Cindy terus mendukung pergerakan toko
Janis.
Sesuai
usulan Cindy, toko Janis tak lagi dipenuhi oleh banyak menakin. Hanya beberapa
saja, dan Janis memilih untuk menggunakan tiga belas menakin untuk tokonya yang
kini sudah berubah warna dan berubah citra. Janis mengubah tokonya menjadi
terkesan lebih misteri. Dinding-dinding toko itu dibuat sedemikian menyeramkan
seperti rumah hantu, tapi justru itu yang membuat toko itu kembali diramaikan
oleh banyak mengunjung. Toko itu juga menjual benda-benda aneh dan unik seperti
baju yang didesign dengan animasi 3D sepenggal jari tak bertuan, tangan
puntung, atau organ-organ tubuh lainnya yang tidak sempurnya yang sebenarnya
lebih terlihat menjijikan daripada menarik. Tapi itu memang unik. Cindy memang
ahli dalam membuat design-design unik yang dapat menarik minat pengunjung.
“Aaargh!”
seorang remaja berteriak kemudian melompat-lompat sambil terus menangis
histeris ketakutan menarik perhatian setiap mata pengunjung.
Janis
melompat dari belakang meja kasirnya dan langsung mendekat remaja putrid itu.
“Ada
apa?”
Gadis
itu menangis kemudian memeluk Janis, erat.
“Ikut
aku.”
Janis
menarik tangan gadis itu dan membawanya ke lantai dua, tepatnya di ruang kerja
Janis.
“Katakan
padaku, ada apa?” Tanya Janis dengan nada sinis. “Kau tau tokoku ini pernah
bermasalah dengan adanya mayat yang menyerupai patung-patung bodoh itu ‘kan?!
Teriakanmu tadi itu bisa saja kembali menghancurkan karirku. Kau mengerti?”
Janis tak menurunkan suaranya. Ia tak perduli dengan wajah pucat dan suara
tangaisan histeris gadis di depannya yang bahkan tak mampu untuk duduk meski
Janis telah mendorongnya ke sofa.
“Katakan,
ada apa?” Janis mengguncang tubuh gadois itu. Ada kekhawatiran yang besar yang
membuat Janis tak tenang melihat sikap gadis di depannya yang tak juga membuka
suara.
“Argh…
aku takut… ta.. kut…”
Gadis
itu pingsan dan kemudian jatuh pada sofa di belakangnya.
Janis
panic dan semakin panic ketika mendapatkan sepotong jari tengah dan dikerumuni
oleh belatung di tangan gadis yang tengah pingsan itu.
Janis
menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia begitu terkejut. Ia melangkah
mundur, punggungnya menabrak pintu yang baru saja dibuka oleh seseorang.
Store of Corpse - Part II
Cuaca
mendung, angin bertiup kencang, televisi menyiarkan kabar berita yang
memperkirakan akan adanya badai dan hujan besar dan menyarankan kepada warga
agar tetap berada di rumah atau bagi yang sedang berada di jalanan agar
menghindari jalan yang rawan longsor dan menjalankan kendaraannya dengan kecepatan
minimum ketika hujan nanti untuk keselamatan bersama.
Janis
yang sedang mendengar berita itu menunggu kabar dari orangtuanya yang baru
beberapa menit yang lalu mengabarinya bahwa akan segera pulang dari acara
kemping kantornya.
Orangtuanya
yang juga turut mengundang orangtua Cindy dalam acara itu semakin membuat Janis
tidak tenang, karena bila memang terjadi apa-apa pada mereka tentulah Janis
tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali Cindy.
Sudah
tiga jam berlalu, tak ada kabar apapun dari orangtuanya selain kabar
keberangkatan dan kabar tentang cuaca yang sangat buruk disana yang sudah lebih
dulu dilanda hujan lebat dan angin kencang daripada cuaca di sekitar rumahnya.
Beberapa pohon di sana telah tumbang, itulah yang mengusir orangtuanya untuk
segera pergi dari sana.
Sebuah
pohon besar tumbang dan menutupi satu-satunya jalan pulang dan membuat mereka
terpaksa menunggu hingga datangnya pertolongan. Masing-masing orangtua itu
telah menghubungi bantuan dan memintanya agar segera dating tanpa ingin member
tau putrinya karena takut bila hal itu akan membuat putrinya menjadi susah
karena situasi mereka yang saat ini memang sangatlah mengkhawatirkan.
Seperti tengah dilanda gempa, mobil yang
sedang ditumpangi oleh keluarga Janis bergoyang kencang. Semua penumpang mobil
itu menjerit histeris tanpa mereka tau bahwa dalam hitungan detik mobil itu akan
terperosok jatuh ke dalam jurang yang curam tepat di samping badan jalan.
“Ini
kenapa, Pa?” Mamanya Janis panik luar biasa.
“Mungkin
gempa, atau…” belum sempat lagi Papa Janis menyelesaikan perkataaannya, mobil
mereka berhasil terperosok jatuh hingga ke dasar jurang terjal dan di dasarnya
ditemukan sungai yang penuh dengan bebatuan.
“Aaarght!”
teriak mereka yang terombang-ambing dari dalam mobilnya dengan histeris.
Janis
semakin gelisah, ia menghubungi Cindy yang ternyata juga merasakan kegelisahan
yang sama dengan sepupunya itu.
“Mami
juga ga bisa dihubungi, aku takut terjadi apa-apa sama mereka. Cuaca di luar
sangat buruk, Nis.” Ujar Cindy di ujung telepon sana.
“Aku
juga mikirin hal yang sama, Ndy. Aku ke rumah kamu ya? Aku takut sendirian di
rumah.”
“Tapi
cuacanya gak ngedukung, Janis. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Bisa aja kan angin
kencang gini bikin pohon tumbang atau angin puting beliung. Kamu di rumah aja
ya. Segera telepon aku kalau ada apa-apa, oke?!”
“Iya.
Thanks, Cindy. Bye..”
Dua
hari berlalu, orangtua Janis dan Cindy masih belum bisa dihubungi dan itu
memaksa kedua gadis remaja itu melaporkan laporan kehilangan pada pihak yang
berwajib. Hari-hari mereka diisi dengan tangisan sendu. Cindy yang sangat
ketakutan terus menyalahkan Janis atas kejadian ini. Ia juga menyalahkan kedua
orangtua Janis yang mengajak orangtuanya untuk ikut bersama dengan orangtua
Janis.
Di
rumah Janis, di dekat perapian, Cindy mengamuk. Ia membuat rumah Janis
berantakan. Nyaris semua barang di ruangan itu ia buang ke dekat perapian dan
bahkan ada pula yang memang sudah masuk ke perapian sehingga membuat api
menjalar dan berhasil sudah dalam sekejap saja umah itu dilalap api.
Janis
menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan Cindy yang kini berganti posisi
dengan Janis yang beberapa waktu yang lalu merasa bersalah. Cindy tak ragu
untuk berlutut dan terus meminta maaf pada Janis. Namun Janis masih saja merasa
begitu kesal pada Cindy yang mengakibatkan rumahnya terbakar.
Tak
berhenti berusaha, Cindy terus mencoba dan membujuk Janis untuk tinggal bersama
di rumahnya meski niatnya itu tidak setulus seperti apa yang terlihat. Cindy
lebih mencondongkan niatnya menolong Janis agar Janis tak mengusut kusus itu
kepada polisi. Dan tak sia-sia, atas bujukannya Janis memang akhirnya menerima
tawaran itu.
Dalam
hari-hari penuh ketidaktenangan, Janis dan Cindy begitu akrab. Mereka saling
menenangkan satu sama lainnya. Kini mereka memang benar-benar tinggal berdua
setelah seorang polisi mengabarkan kematian orangtuanya.
“Nona
Cindy Murders?” Tanya seorang polisi berpakaian bebas di depan pintu rumah
Cindy.
“Iya,
saya. Bapak mau mengabari tentang keberadaan orang tua saya?” Tanya Cindy
terburu-buru tanpa mempersilakan polisi yang seperti intel itu masuk ke dalam
rumahnya.
Di
belakang Cindy, Janis datang dengan terburu-buru. “Kabar Mama?” Tanyanya
memalingkan wajahnya pada Cindy lalu beralih kepada polisi yang berbicara tadi.
“Maaf, Nona, kami membawakan kabar buruk.
Menurut hasil indentifikasi kami, orang yang berada dalam mobil yang keluarga
anda tumpangi sudah tewas. Mobil
yang ditumpanginya hangus terbakar dan di sana tidak kami temukan apa-apa
selain bangkai mobil yang sudah tidak berbentuk lagi.”
Serentak
kedua gadis itu menangis histeris.
Mereka sama-sama menyesali dengan apa yang telah terjadi.
Polisi
berkulit putih itu tak ingin membuang waktunya untuk melihat dua saudara itu
menangis. Ia segera melanjutkan tugasnya. Ia menawarkan tawaran yang tentu
tidak akan ditolak oleh kedua gadis itu.
Mereka
mengikuti polisi yang menjanjikan ingin memperlihatkan sisa-sia kebakaran mobil
di jurang tempo hari yang diduga kuat bahwa itu adalah keluarga mereka.
Setelah
semuanya terbukti, Janis dan Cindy menerima kenyataan itu dengan pahit. Untuk
beberapa saat mereka saling berdiam diri tak menyapa bahkan tak saling
menenangkan seperti hari-hari sebelumnya, dalam hati Cindy, ia tetap saja
menyalahkan orangtua Janis atas kejadian ini.
***
Langganan:
Postingan (Atom)